Badui Mates | Urang Kanekes.

Ga sengaja liat berita duka warga Badui Dalam di laman instagram sore tadi. Sanadi, teman ngobrol pagi itu sebelum saya ninggalin kampung Cibeo.
Sedih, padahal ga kenal personal, ketemunya juga baru pagi itu. Tapi bener-benar feeling blue, ada perasaan seperti sudah menyatu dengan warga badui, lebih khusus badui dalam.

Ayah Sanadi a.k.a Pulung Palawari, adalah teman jalan kami sepanjang treking dari Ciboleger menuju Cibeo, beliau ngeporterin sekaligus "narasumber" kami selama hampir enam jam perjalanan sore itu. Obrolan sepanjang perjalanan yang menambah khazanah pengetahuan tentang Badui.

Dari Ayah Sanadi saya jadi tau macam-macem pengetahuan unik yang belum pernah saya baca/tonton.

Sebagai seorang culture entushiast dan memang senang hiking, ke Badui merupakan paket combo. Sudah lama saya niatkan mengunjungi Badui tiap kali tugas ke Jakarta (kalau dapet weekend), namun rezeki berkunjungnya baru bulan September kemarin.

Sepintas yang saya tau, Badui terdiri dari Badui Luar dan Badui Dalam. Suku Badui ini termasuk masyarakat adat yang menjunjung tinggi aturan leluhur dan sanga patuh dengan norma adat. Larangan adat seakan dianggap harga mati.

Badui merupakan kelompok masyarakat adat yang berusaha mempertahankan adat leluhur ditengah gempuran modernisasi. Masyarakat badui dalam dengan pakaian sehari-harinya hanya bercorak hitam dan putih, ikat kepala putih dan tanpa alas kaki. Larangan menggunakan kenderaan membuat masyarakat badui dalam mesti berjalan kaki berpuluh kilometer jika ada keperluar diluar kampung. waaah..! "Kalau ke Jakarta, jalan kakinya dua hari" begitu kata Ayah Sanadi.

Aktivitas bersih-bersih semuanya hanya boleh dilakukan di sungai; mencuci peralatan makan, cuci pakaian, mandi dan aktivitas sanitasi lainnya. Tanpa detergen, sabun mandi, pasta gigi, dan bahan-bahan yang dianggap mencemari lingkungan atau merusak ekosistem alami. Peralatan makan yang sederhana; daun pisang pengganti piring, batang bambu pengganti gelas. Tidak menggunakan lampu listrik atau peralatan elektronik apapun, telepon genggam dan kamera pengunjung tidak boleh digunakan saat berada di Badui Dalam. Mesti dimatikaan saat memasuki wilayah perbatasan kampung.

Di Badui semuanya sama, setara, ga nampak ada si kaya maupun si miskin.
Kesederhanaan yang membahagiakan tanpa mesti ke-pressure ekspektasi.
Yang sedikit membuat hati terenyuh adalah larangan adat untuk berpendidikan formal😢 bagaimana bisa?! Sedih, apalagi pas liat  anak-anaknya. Anak-anak usia sekolah 😭 yang ada hanyalah harapan-harapan sederhana orang tua. 

Suku Badui tinggal di satu desa yaitu Desa Kanekes yang tediri dari banyak kampung, sekitar 50 lebih kampung badui luar dan 3 kampung badui dalam. Kampung badui dalam hanya 3 kampung dan ga akan pernah bertambah (kampung Cibeo, Cikeusik dan Cikertabana) serta Puún sebagai kepala adat. Jadi, masyarakat badui luar tetap mengikuti titah Pu'un, kegiatan adatpun tetap dipusatkan di Badui dalam. Sepikir saya, Badui dalam ini seperti pusat pemerintahan semua suku badui

Kembali ke Ayah Sanadi, dari beliau saya dapat pengetahuan-pengetahuan unik berikutnya tentang Badui.
  • Punya empat Konsep lararangan buyut, salah satunya "panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung". Kamu akan menyadari ini kalau merhatiin rumah adat suku Badui dalam.
  • Pu'un kepala adat yang menentukan masa tanam dan panen, menerapkan hukum adat, dan mengobati orang sakit.  
  • Pu’un sangat dihormati, hanya orang yang berkepentingan khusus yang dapat bertemu dengan beliau. Bahkan rumahnya saja dipagari "batas suci", hanya bisa liat dari kejauhan. Orangnya, apalagi.  Ini berbanding terbalik dengan kondisi saat saya ke Waerebo. Setiba dikampung Waerebo, orang pertama yang harus kita temui adalah kepala adat. Mampir kerumah kepala adat, meminta izin untuk diterima sebagai warga/pengunjung mereka, plus ijin bermalam.
  • Orang Badui berobat dengan cara-cara kebatinan. Lahiran sendirian, ga boleh ada pendamping seperti bidan/dukun kampung. Kalau udah lahir, baru bisa manggil tentangga.
  • Jika ada yang meninggal, akan ada acara adat seperti berdoa dimalam pertama, kelima, ketujuh. Setelahnya, tempat orang tersebut dikebumikan bisa digunakan untuk hal lain misal berladang, tetapi kuburannya tetap ditandai dengan ditanami pohon *lupa jenis tanamannya apa?!* 
  • Kawalu, puasa yang dirayakan tiga kali selama tiga bulan berturut-turut. Saat Kawalu, wisatawan hanya boleh berkunjung sampai Baduy Luar saja.
  • Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang di desa Kanekes, pantesan bener ga pernah liat hewan berkaki empat, hanya sempat liat seekor kucing waktu masih di kampung badui luar.
  • Rumah adat dibangun dalam 2 hari. Budayanya gotong royong, 2 hari mesti selesai. Jadi kalau bangun rumah, bahan ramuan rumahnya emang kudu sudah siap semua.
  • Soal rumah adat, Badui dalam atapnya menggunakan daun gerai, diikat pake tali, hanya memiliki satu pintu yang cukup diikat dengan anyaman bambu. Rumah ga menggunakan paku. Sedangkan Badui luar, rumahnya sudah menggunakan anyaman ukir untuk dinding, udah menggunakan paku juga. 
  • Ga boleh menanam kopi dan umbi, tapi dibolehkan mengkonsumsinya.
  • Soal Pemilihan; pilpres, pilkada, orang Badui prinsipnya mendoakan yang terpilih.
  • Agamanya Sunda Wiwitan, konon katanya sedikit menyerupai islam dan hindu.

Pengetahuan lain dari Ayah Samad: potong rambut hanya boleh dibulan tertentu sembari memanjatkan doa. Salah satu waktu potong rambut yakni dibulan kalima.
Apa lagi ya?! Banyak yang unik-unik sih.

        Ada cerita lucu saat kunjungan kemarin.
        Rombongan kami tiba di Cibeo sudah lewat magrib. Kiblatnya pake feeling.
        Gelar sajadah.....sholat.
        Berbekal liat matahari sore tadi, merasanya feelingnya cukup kuat karena beberapa teman juga
        yakin arah kiblat yang sama.
        Eehh ternyata sholatnya ada yang saling membelakangi😂 teman lain yang tiba setelah kami 
        sholatnya ngadep arah sebaliknya. Nah lho! 

        Waktu itu ga kepikiran nanya arah ke warga, pikir kami kan ga sholat ya... Ga kepikiran juga 
        nanya arah mata angin ke warga. Udah ga ada cahaya matahari buat patokan arah, ya sudah pake 
        feeling. Punya kompas di Hp tapi ga mungkin nyalaian Hp. Nyalain smartwatch buat kompas juga 
        ga kepikiran, selain otak udah ke setting ga boleh pakai alat elektronik, udah cukup yakin juga 
        sama si feeling ini.
        Belakangan baru saya tau, rumah-rumah orang badui itu hanya boleh menghadap utara dan       
        selatan,  jadi bisa dipastikan sholatnya tidak menghadap atau membelakangi pintu rumah 
        dan ini yang kami lakukan malam itu😅salah dua-duanya!

Badui itu memorable😁Besok kalau tugas ke Jakarta bisa ngepas lagi dengan week end, sepertinya saya akan kesana lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Tax Planning or Tax Evasion? "sebuah pelajaran" dari Adaro.

Keliling NTT *maunya sih begitu ya