Badui Mates | Urang Kanekes.
Ayah Sanadi a.k.a Pulung Palawari, adalah teman jalan kami sepanjang treking dari Ciboleger menuju Cibeo, beliau ngeporterin sekaligus "narasumber" kami selama hampir enam jam perjalanan sore itu. Obrolan sepanjang perjalanan yang menambah khazanah pengetahuan tentang Badui.
Badui merupakan kelompok masyarakat adat yang berusaha mempertahankan adat leluhur ditengah gempuran modernisasi. Masyarakat badui dalam dengan pakaian sehari-harinya hanya bercorak hitam dan putih, ikat kepala putih dan tanpa alas kaki. Larangan menggunakan kenderaan membuat masyarakat badui dalam mesti berjalan kaki berpuluh kilometer jika ada keperluar diluar kampung. waaah..! "Kalau ke Jakarta, jalan kakinya dua hari" begitu kata Ayah Sanadi.
Suku Badui tinggal di satu desa yaitu Desa Kanekes yang tediri dari banyak kampung, sekitar 50 lebih kampung badui luar dan 3 kampung badui dalam. Kampung badui dalam hanya 3 kampung dan ga akan pernah bertambah (kampung Cibeo, Cikeusik dan Cikertabana) serta Puún sebagai kepala adat. Jadi, masyarakat badui luar tetap mengikuti titah Pu'un, kegiatan adatpun tetap dipusatkan di Badui dalam. Sepikir saya, Badui dalam ini seperti pusat pemerintahan semua suku badui
- Punya empat Konsep lararangan buyut, salah satunya "panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung". Kamu akan menyadari ini kalau merhatiin rumah adat suku Badui dalam.
- Pu'un kepala adat yang menentukan masa tanam dan panen, menerapkan hukum adat, dan mengobati orang sakit.
- Pu’un sangat dihormati, hanya orang yang berkepentingan khusus yang dapat bertemu dengan beliau. Bahkan rumahnya saja dipagari "batas suci", hanya bisa liat dari kejauhan. Orangnya, apalagi. Ini berbanding terbalik dengan kondisi saat saya ke Waerebo. Setiba dikampung Waerebo, orang pertama yang harus kita temui adalah kepala adat. Mampir kerumah kepala adat, meminta izin untuk diterima sebagai warga/pengunjung mereka, plus ijin bermalam.
- Orang Badui berobat dengan cara-cara kebatinan. Lahiran sendirian, ga boleh ada pendamping seperti bidan/dukun kampung. Kalau udah lahir, baru bisa manggil tentangga.
- Jika ada yang meninggal, akan ada acara adat seperti berdoa dimalam pertama, kelima, ketujuh. Setelahnya, tempat orang tersebut dikebumikan bisa digunakan untuk hal lain misal berladang, tetapi kuburannya tetap ditandai dengan ditanami pohon *lupa jenis tanamannya apa?!*
- Kawalu, puasa yang dirayakan tiga kali selama tiga bulan berturut-turut. Saat Kawalu, wisatawan hanya boleh berkunjung sampai Baduy Luar saja.
- Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang di desa Kanekes, pantesan bener ga pernah liat hewan berkaki empat, hanya sempat liat seekor kucing waktu masih di kampung badui luar.
- Rumah adat dibangun dalam 2 hari. Budayanya gotong royong, 2 hari mesti selesai. Jadi kalau bangun rumah, bahan ramuan rumahnya emang kudu sudah siap semua.
- Soal rumah adat, Badui dalam atapnya menggunakan daun gerai, diikat pake tali, hanya memiliki satu pintu yang cukup diikat dengan anyaman bambu. Rumah ga menggunakan paku. Sedangkan Badui luar, rumahnya sudah menggunakan anyaman ukir untuk dinding, udah menggunakan paku juga.
- Ga boleh menanam kopi dan umbi, tapi dibolehkan mengkonsumsinya.
- Soal Pemilihan; pilpres, pilkada, orang Badui prinsipnya mendoakan yang terpilih.
- Agamanya Sunda Wiwitan, konon katanya sedikit menyerupai islam dan hindu.
Rombongan kami tiba di Cibeo sudah lewat magrib. Kiblatnya pake feeling.
Badui itu memorable😁Besok kalau tugas ke Jakarta bisa ngepas lagi dengan week end, sepertinya saya akan kesana lagi.
Comments
Post a Comment