Backcounty backpacking

Part lanjutan dari yang ini

Backcounty? Rasanya ga juga sih ya, ga pedalaman-pedalaman amat. Tapi, jauuuuuh!
Buat sampe ke tujuan, kudu motoran almost 5 jam dari labuan bajo (melewati jalan modelan indomie dengan sekian kilo meter aspalnya mirip halua kenari, bonus melewati sungai yang ga ada  jembatannya *berasa offroad deh pokoknya), dan treking kira-kira 2 sampe 3 jam.
Iya, Waerebo *via Nangalili.

Tadinya saya dan kak Cito mau motoran berdua, tapi pertimbangan ini itu, jadinya sewa jasa ojek pergi pulang Labuan  Bajo-Waerebo. 
Andai jadi bawa motor sewaan dan motoran sendiri, mungkin ada drama nangis kejer di jalanan manggarai itu, hahah...
Long story short, kami berangkat jadinya ber-enam, ketambahan mbak bule Marlin (deutscher yang katanya tinggal di London) yang juga nyewa jasa ojek seperti kami.

Perjalanan yang menyenangkan, I'm hooked.
Sesekali saya merasa seperti sedang berjalan ditengah savana. Topografis wilayahnya emang kering kerontang, eksotis pokoknya.
Hamparan pepohanan diperjalanan panjang sebelum Jembatan Wae Ara di Nangalili cantik banget, mirip bunga sakura. Sesekali mengurangi laju kenderaan, menepi untuk menikmati pemandangan. Ada untungnya punya partner motoran yang cerewet, panas teriknya berasa lebih netral.

Setelah Nangalili, kami terus melewati jalanan dipinggiran pantai. Mendekati  jembatan Nangalili-Denge  perjalanan semakin membuat pant*t dan lutut kontraksi😂 aspalnya bener-bener halua kenari! Di tempat-tempat tertentu, saya lebih memilih turun dari motor dan jalan kaki aja dari pada pant*t semakin tepos. Buset dah ini jalanan.
Kami akhirnya menepi disalah satu pantai untuk makan siang yang beli dari warung makan di Lembor, sambil bahas pulau Mules yang nampak tepat di depan mata.

Memulai perjalanan lanjutan, saya dan Marlin bertukar motor.  Her legs too long for the type  motorbike she rents. Kasian juga liatnya.
Dalam perjalanan menuju Desa Denge, kami bertemu dua orang lainnya di persimpangan jalan (nampak bingung tentukan arah) yang juga  akan menuju ke Waerebo, bertambah rame lah perjalanan kami.

Setiba di departure trekking for Waerebo, istirahat sejenak, menikmati kepala muda, sewa trekking pole, beli baju hujan *buat jaga2*, and go
Yeah, ready for trekking. Kami mulai treking sekitar pukul 2 siang diiringi kabut khas dataran tinggi. Pos demi pos kami lewati sambil berbagi cerita kocak diiringi lagu-lagu country kak Riki.
Sesekali bertemu petani kopi yang memikul karung kopinya dari Waerebo buat ditampung di Denge.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di pos terakhir sebelum memasuki Waerebo, mukul kentungan sebagai pertanda keberadaan kami untuk bertamu, and than....
kabut syahdu Waerebo menyambut kami.

Nebeng pajang foto :D *take some picts setelah melapor kedatangan kami ke kepala suku.

Bermalam di Mbaru Niang ini banyak cerita lucunya. Seakan ga ada habisnya.
Saat orang-orang mulai tertidur, obrolan saya dan kak Cito belum juga tamat, saya iseng matiin lampu *susah tidur kalau terang.
Pas matiin kontak, seketika satu kampung langsung gelap gulita😂 Padahal cuma mau matiin yang di rumah tempat kami nginap. Jadilah tidur dengan rasa bersalah, namun tetap aja ngakak, mulut sampe ditutupin pake bantal biar ga kedengaran berisiknya tawa kami.  

Menjelang tengah malam saya sempatkan keluar, mandagin milky way. Katanya nampak galaxy bima sakti dari sini sangat cantik.
Dan benar saja, langit malam yang cerah membuat mereka terlihat sangat jelas. Awesome.

Aaaah Waerebo,
Hawa-hawanya,
Wangi kopinya,
Nampak milky way-nya,
Sunrisenya...
Subahanallah.
Bikin benar-benar sadar bahwa kita lagi di planet yang entah ngambang atau menggantung di semesta yang tak berujung ini. *pikiran tetiba absurd, Voyager udah sampe mana ya? Si Kepler yang katanya kembaranya Bumi ada disebelah mana?

Bucket list (checked) 

Comments

Popular posts from this blog

Tax Planning or Tax Evasion? "sebuah pelajaran" dari Adaro.

Keliling NTT *maunya sih begitu ya

Badui Mates | Urang Kanekes.